BERDAMAI DENGAN SESAMA MUSLIM (17012020)
Dr. Amri Fatmi, Lc. MA.
Kebencian, Permusuhan dan dendam terjadi
dalam interaksi hidup kita hari-hari kadang tak terelakkan. Perasaan negative
ini ada yang hilang beberapa saat dan ada yang menahun tak terobati. Semua
orang yang merasa penyakit hati yang negative ini merasakan ketidaknyamanan dan
tak selesa dengan apa yang mereka alami.
Jelas bahwa suasana tidak ada orang yang
kita benci serta tidak ada yang membenci kita adalah kondisi yang diidamkan
oleh setiap orang. Namun kadang seseorang merasa membenci atau mendendam karena
ia merasa benar dengan sikapnya dan merasa orang lain telah bersalah dengan
dia. Dari sini ia merasa bahwa pantas saja dia menyimpan dendam pada orang yang
telah menyakiti hatinya selama ia tidak meminta maaf.
Perhatikanlah, kalau begini perasaan
kita terhadap orang, maka begini pula perasaan orang pada kita.
Di sini kita pantas mengingat kembali
hadis yang diperingatkan Nabi kita tentang penyakit "kibrun."
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallau
'anhu, ia berkata : Rasulullah bersabda :" Tidak akan masuk syurga siapa
yang dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan/keangkuhan
(kibrun)''. Seorang laki-laki bertanya : seseorang menyukai bajunya bagus dan
sandalnya bagus" Rasul bersabda : " Allah itu indah menyukai keindahan,
kesombongan (alkibru)adalah menolak kebenaran
dan merendahkan orang lain" ( HR. Muslim, Abu Dawud)
Hadis shahih tersebut memaparkan bahaya
penyakit angkuh yang tersimpan dalam hati walau sekecil apapun. Rasulullah
mengabarkan angkuh dengan sebesar zarrah, yang dalam bahasa Arab zarrah
bermakna biji paling kecil yang bisa dilihat oleh mata. Sikap angkuh jelas
tidak bisa berwujud materi sehingga bisa diukur, namun Rasulullah
mendeskripsikan hal tersebut agar mudah dipahami manusia. Bila ia terdapat
dalam hati, akan berbahaya fatal. Yaitu tertolak dari syurga. Menjauhkannya
dari Allah. Nabi secara langsung mengambarkan syurga sebagai bahaya
kesombongan, kenapa?
Karena ke syurga kita harus menempuh
jalan kebenaran, sementara sikap kesombongan dalam diri seseorang akan menjauhkan
dari kebenaran yang sampai padanya. Hal ini akan menggelincirkannya dari jalan
yang membawanya ke syurga.
Untuk melenyapkan dan belajar
menghindari sifat angkuh dan sombong serta penyaki benci dan dendam yang bisa
merusak hubungan antara kita dengan saudara kita yang dekat dengan kita,
sepatutnya kita belajar cara menghindari penyakit itu dengan kebesaran hati
kita.
Di Madinah, pernah ada sekelompok orang
yang menyebarkan berita bohong tentang Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Istri
Nabi dan anak Abu Bakar. Di antara orang yang menyebarkan berita bohong itu
adalah kerabat Abu Bakar sendiri dan orang yang selalu dibantu dan disantuni
oleh Abu bakar. Abu bakarpun geram dan sangat terpukul dengan perlakuan
tersebut.
Lalu
Abu Bakar r.a. bersumpah bahwa dia tidak akan memberi apa-apa lagi
kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita
bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat
melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan
berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka
itu.
Firman Allah :
"Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka
(tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin
dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka
mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah
mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S.
Nuur : 22)
Selanjutnya simaklah kisah yang terjadi
dengan sahabat Nabi agar kita dapat pelajaran hidup dan solusi dari masalah
kita bersama. Berikut kisah terjadi dikalangan sahabat dulu.
Abu Dzar pernah berselisih dengan Bilal
bin Rabah. Padahal mereka berdua bersahabat. Namun mereka tetaplah manusia
biasa. Abu Dzar marah dan berkaa pada Bilal : " Wahai anak orang
Hitam". Perasaan rasis Abu Dzar tiba-iba muncul.
Tidak menerima panggilan itu, Bilal
mengadu kepada Nabi SAW. Lalu Nabi memanggil Abu Dzar dan bertanya : "
Apakah engkau memaki seseorang?"
"Ya" jawab Abu Dzar.
Rasulullah bertanya lagi, " apakah
engkau menyebutkan nama ibunya?" Abu Dzar berkata : " Wahai
Rasulullah, siapapun memaki orang, nama ayah dan ibunya akan dibawa-bawa."
Rasulullah bersabda : "Kalau
begitu, dalam dirimu masih ada warisan jahiliyah". Seketika raut muka Abu Dzar berubah lalu
bertanya pada Nabi "Apakah saat itu dalam diriku ada sombong?"
"ya " jawab Nabi.
Mengetahui demikian, apa yang dilakukan
Abu Dzar? Abu Dzar segera pergi mencari Bilal setelah bertemu ia memohon maaf.
Cara ia meminta maaf dengan bersimpuh di depan Bilal dengan meletakkan pipinya
di atas tanah seraya berkata : "Wahai Bilal, injakkan kakimu di
pipiku." (H.R. Muslim)
Nah, Saudarku, Lihat bagaimana kisah
permusuhan dan kebencian terjadi dan bagaimana berakhir. Ada yang membenci
dengan kesombongan lalu berakhir denan penyesalan dan meminta maaf. Siapa saja
bisa dan sangat mudah bersikap terlanjur, namun hal itu tidak mencegah sesorang
untuk menyesali dan memadamkan api kebencian dan dendam.
Abu Bakar dan Umar pernah terlibat
perbincangan sengit berdua. Karena merasa marah dengan Abu Bakar, Umar seketika
mencabut diri dan pergi. Melihat hal itu, Abu bakar merasa menyesal, dan
beranajak menyusul Umar meminta maaf. Tapi Umar tidak mau menoleh. Abu bakar terus
mengikuti Umar sampai ke rumahnya meminta maaf, tapi Umar masuk menutup pintu
tanpa memberikan maaf.
Abu Bakar lemas, dan pergi menjumpai
Rasulullah. Melihat Abu bakar datang dengan kondisi berbeda dan tidak
bersemangat, Nabi berujar pada orang yang duduk bersama beliau : " sahabat
kalian ini habis bertempur"
Abu bakar hanya duduk dan diam tidak
melaporkan apap-apa pada Nabi. Namun tak lama kemudian Umar pun Datang ke
majlis itu dan menceritakan apa yang terjadi antara mereka berdua, dan
menceritakan kalau ia telah berpaling tidak memberi maaf pada Abu bakar. Sontak
Nabipun marah pada Umar, seketika Abu Bakar berkata : "Demi Allah, wahai
Rasulullah akulah yang zalim, akulah yang berbuat aniaya." Abu Bakar
membela Umar. (H.R. Bukhari)
Kedua mereka telah berbuat salah, Abu
bakar bersala membuat Umar marah dan membencinya, tapi dengan cepat meminta
maaf. Kesalahan Umar adalah tidak mau memberikan maaf, namun akhirnya menyesal
dan menemui Abu Bakar yang sedang bersama Nabi.
Akuilah kesalahan dan akuilah kesalahan
bila memang kita berbuat salah dan membuat orang lain marah dan membenci.
Itulah rumusan yang dijalankan para sahabat dalam hidup mereka sehingga mereka
mampu menjaga persaudaraan mereka dengan cara baik.
Sesungguhnya, banyak permasalahan kita
dengan saudara kita terjadi disebabkan oleh kesalahpaaman orang terhadap kita
dan ketidak mampuan kita memahami orang lain. Juga disebabkan harapan kita yang
lebih pada orang lain padahal dia tidak memiliki kemampuan dengan harapan kita. Maka ingatlah Firman Allah :
"..dan hendaklah mereka mema'afkan
dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. Nuur : 22)
Bahkan Nabi sendiri saat orang ahlu kiab
begitu gencar memusuhi beliau dan dengki habis habisan terhadap beliau dan para
sahabat, Allah mengajarkan beliau bagaimana harus bersikap, fieman Allah :
"Sebahagian besar ahli kitab
menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata
bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah
mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." (Q.S. Al-BAqarah : 109)
Saudaraku, banyak masalah anatar kita
dengan orang dekat kita melanggeng permusuhan berminggu, berbulan-bulan dan
bertahun-tahun bahkan seumur hidup.
Solusinya, salah seorang dari yang besiteru itu harus mau berkata : "Aku salah, aku
mohon maaf. Aku tidak menempati janji, aku sedikit keterlaluan, kata-katuku
telah menggores hatimu." Aku sediki sibuk dan tegang, jadi kurang bisa
bersikap wajar, Dan lain sebagainya..
Betapa indahnya kala kita biasa
mendengarkan kata ini dalam pergaulan kita sehari hari. Dari sini belajarlah
kita untuk selalu berusaha memadamkan percikan api sebelum api itu membara.
Comments
Post a Comment